Jumat, 11 Februari 2022

Book Review: We were Liars - Para Pembohong

29566134. sx318
Judul: We were Liars – Para Pembohong

Penulis: E. Lockhart.

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama.

Tahun Tebit: 2016

Tebal: 296 halaman

No. ISBN: 978 – 602 – 03 – 0671 – 1

Rating: 3.5 / 5

**

Keluarga yang menawan dan disegani. 

Pulau pribadi.

Gadis cerdas yang risau; pemuda politis yang penuh semangat.

Empat sahabat-Para Pembohong-dengan pertemanan yang kemudian menjadi destruktif.

Kecelakaan Rahasia. 

Kebohongan demi kebohongan.

Cinta sejati.

Kebenaran.

Para Pembohong merupakan novel suspense modern karya E. Lockhart, finalis National Book Award dan penerima Printz Award.

Bacalah.

Dan jika ada yang bertanya bagaimana akhir cerita ini,

JANGAN BERITAHUKAN.

**

Selamat datang di keluarga Sinclair yang sempurna. 

Di sini tidak ada kriminal. 

Di sini tidak ada pecandu.

Di sini tidak ada yang gagal. (Halaman 13)

    Paragraf pembuka ini adalah hal penting yang meningkatkan minat saya untuk membaca buku We were Liars. Beberapa bulan bahkan setahun belakangan, minat baca saya menurun jauh. Sepertinya tahun lalu saya cuma baca satu buku. Atau bahkan nggak baca sama  sekali. Maka dari itu, satu paragraf pembuka di atas lumayan membuat saya tertarik untuk membaca kisah di buku ini sampai selesai.

    Seperti judulnya, We were Liars atau Para Pembohong di versi Bahasa Indonesia, buku ini berkisah tentang Cadence Sinclair Eastman dan tiga teman dekatnya. Cadence, selanjutnya dipanggil Cady, merupakan cucu tertua keluarga Sinclair yang sempurna dan kaya. Selain Cady ada Merrin, Johnny, dan Gat dalam kelompok Para Pembohong. Dijuluki demikian karena mereka seumuran dan cenderung membuat masalah jika berkumpul bersama. Cady selalu bertemu tiga orang tersebut setiap musim panas, di Pulau Beechwood, pulau pribadi milik Keluarga Sinclair. Setiap musim panas, kecuali musim panas ke enam belas.

    Hal utama yang menurut saya menonjol dari buku ini adalah gaya bahasa. Meskipun sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, penulisannya bagi saya pribadi sangat menarik. Susunan katanya dibuat sedemikian rupa. Selain itu, pemilihan kata untuk mendeskripsikan perasaan Cady si tokoh utama. Pada bab pembuka saya bahkan harus membaca beberapa kali untuk mengerti apa maksud si penulis. Namun lama – kelamaan, saya mengerti dan tiba-tiba tulisannya terkesan sangat cerdik.

Kalimat-kalimat kontradiktif yang digunakan juga sungguh menarik buat saya, contohnya:

Kami pernah begini sebelumnya.

Sekaligus kami tak pernah begini. (Halaman 120)

    Terlepas dari itu, masih ada beberapa kesalahan penulisan yang saya temui. Pada halaman 15 tertulis dia mencintaiku ibuku dulu. Ini cukup membingungkan buat saya, antara dia mencintaiku dan ibuku dulu atau mencintai ibuku dulu. Lalu menurut saya, penulisan Dad dan Mummy seharusnya dicetak miring karena itu istilah asing. Masih ada beberapa kesalahan lagi tapi bukan hal yang signifikan.

    We were Liars ini ditulis dari sudut pandang pertama tokoh Cady. Alur yang digunakan adalah alur mundur, dengan beberapa sisipan cerita-cerita dongeng buatan Cady. Buat saya, ceritanya di awal terkesan seperti mengulur-ulur waktu. Dari awal Cady bercerita, kemudian dengan dongeng-dongeng buatannya di pertengahan mendekati akhir, saya masih belum tahu sebenarnya cerita ini akan seperti apa. Semua tokoh, terkesan aneh dan menutupi sesuatu. Banyak perilaku-perilaku tokohnya, terutama Merrin dan Gat, yang bikin saya curiga. Tapi Cady juga tidak bisa dibilang normal.

    Dengan para tokoh yang dibentuk sedemikian rupa dan kesan janggal yang saya tangkap selama membaca cerita ini, saya sampai harus menahan diri untuk tidak langsung loncat ke bab penutup demi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa mereka seperti itu? Apa yang terjadi sebenarnya? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

    Semua terjawab, buat saya pribadi. Memang jalan pembaca buat akhirnya sampai ke kebenarannya agak lama, tapi saya puas karena setidaknya semua terjawab. Ada rasa lega tapi juga sedih karena Merrin, Johnny, dan Gat ada di Pulau Beechwood untuk liburan musim panas dengan Cady. Johnny mungkin terkesan berantakan atau tidak peduli. Merrin yang cerewet dengan cat kuku kuning, juga Gat yang penuh rasa ingin tahu dan punya pemikirannya sendiri. Tapi mereka bertiga peduli dan menyayangi Cady. Bisa dibilang kebenaran yang diungkap berhasil membuat saya emosional.

    Sudah cukup lama We were Liars ini ada di daftar buku yang sangat ingin saya baca. Judulnya menarik, apalagi saya memang suka cerita-cerita misteri dan semacamnya. Ceritanya disusun dengan baik, bahasa dan gaya menulisnya sangat menarik. Untuk saya pribadi, kesan yang ditinggalkan ceritanya nggak terlalu kuat. Bukan jelek atau mengecewakan, bagus, tapi juga nggak terlalu memorable. Gaya menulisnya yang paling menonjol buat saya, jadi ke depannya saya akan mencoba karya E. Lockhart yang lain. Tapi tetap saja, buku ini bisa dicoba untuk para pecinta misteri. Siapa tahu kesan yang kalian dapat jauh berbeda dari saya 😊

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar